Langsung ke konten utama

#3 "RPZ"

"MESKI KAMU TAK LAGI KUMILIKI NAMUN KENANGANMU AKAN SELALU TERSIMPAN RAPAT DALAM HATI INI"


Memories of "CRAFRPZ"

Bagiku, dialah yang pertama. Dia tak hanya mengajarkanku tentang cinta, tapi juga tentang luka. Luka yang tetap aku nikmati meski semakin menyesakkanku. Dialah yang pertama, yang mampu membuatku untuk memperjuangkannya, memiliki hati dan pikirannya, meski hanya sementara. Dialah yang pertama, yang bisa menciptakan percikan cinta, yang membuat kedua bibir manusia saling merekatkan. Dia, adalah dirinya.

. . . .

Tuhan punya rencananya sendiri untuk alur cerita kita, begitupun aku. Berjuang adalah tujuan hidupku, yang aku lakukan untuk mendapatkan hatimu.

"Semua terasa tidak mungkin sebelum kamu mencobanya." Dari kata-kata itu, terpikirkan untukku menerapkannya. Mencoba untuk mendekatinya yang statusnya masih pacar orang. Sungguh! bukan ingin bermaksud menghancurkan hubungan seseorang, tapi aku sendiri bisa gila kalau terus memendam perasaan ini sendirian. (cinta gak pernah salah kan?), memang waktunya saja yang tidak pas.

Setelah hampir satu minggu lebih aku tidak bisa tidur nyenyak, kuputuskan untuk melancarkan usahaku dalam pendekatan diri kepada si R. 2017 adalah tahun kebangkitanku dari masa jomblo yang berkepanjangan, sampai saat itu aku belum pernah merasakan seperti apa rasanya pacaran yang sungguhan, sebelumnya aku tidak pernah beruntung dalam masalah wanita.

Sebagian orang pasti merasa grogi atau salting jika berada didekat sang pujaan hati, itulah yang terjadi padaku, saat disekolah aku mencoba menawarinya menjadi foto model. Entahlah! mengapa itu yang terpikirkan olehku. Tapi... memang sebenarnya aku butuh model untuk tugas kejuruanku, dan Rpun setuju saja untuk membantuku. Betapa senangnya hatiku saat itu, seperti langkahku dimudahkan oleh yang Maha Kuasa. (semoga niat baik berujung baik).

Hari demi hari kujalani dengan penuh hati-hati, berharap si R tak tahu maksud hati yang sebenarnya.

Tiap minggu pagi kita keluar bersama, meski hanya sekedar olahraga semata. Dari situ peluang besar tercipta, kucoba untuk menghiburnya dengan segala kekonyolan pada diri ini (layaknya badut pesta) yang mengharapkan saweran berupa balasan perhatianya padaku. Sayang, waktuku ada batasnya, sebelum sang pacar datang untuk menjemputnya. 

Ini cuma sebagian, masih ada hari lain untuk mengenangnya kembali. (karena melupakanmu, aku tak mampu).


Komentar